Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
Demo Besar-Besaran di Bundaran HI: BEM UI dan FPN Jadi Sorotan, Aparat Cegah dengan Pemblokiran
Ratusan mahasiswa turun ke jalan untuk menolak revisi UU Cipta Kerja dan UU PKS, namun aparat menutup akses jalur utama menuju Monas
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
18 Agustus 2026 pukul 23.55 • 2 min baca
- ✔Ratusan mahasiswa dari BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional (FPN) menggelar demo besar di Bundaran HI untuk menentang revisi UU Cipta Kerja dan UU PKS
- ✔Aparat kepolisian dan TNI, termasuk Brimob, melakukan pemblokiran jalur utama menuju Monas dan kawasan Bundaran HI
- ✔Demo ini menjadi salah satu unjuk rasa terbesar pasca-pandemi, dengan berbagai elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ikut serta
- ✔Kementerian Pendidikan dan aparat keamanan dikritik karena dianggap membatasi kebebasan berekspresi mahasiswa
- ✔FPN menegaskan demo ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan generasi muda
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
######### Pemblokiran Jalur Utama: Aparat Rapatkan Kawasan Bundaran HI
Sejak pukul 14.00 WIB, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI dan FPN telah berkumpul di kawasan sekitar Gedung Sate, Depok, sebelum akhirnya bergerak menuju Bundaran HI. Namun, perjalanan mereka terhambat sejak awal karena aparat kepolisian dan TNI, termasuk unsur Brimob, telah melakukan pemblokiran di sejumlah titik strategis, seperti Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat. "Kami tidak meminta izin karena ini adalah hak konstitusional kami sebagai warga negara untuk menyampaikan aspirasi," tegas Ketua FPN, Andi Prasetyo, saat ditemui di lokasi.
######### Spanduk dan Yel-yel: Pesan Politik yang Kian Kencang
Demo ini menjadi salah satu unjuk rasa terbesar pasca-pandemi, dengan berbagai elemen mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta bergabung. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap revisi UU Cipta Kerja yang dinilai merugikan buruh dan pekerja, serta UU PKS yang dianggap melemahkan demokrasi. Selain itu, suara-suara kritis juga menyasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang dianggap tidak netral dalam menangani isu-isu kemahasiswaan. "Pemerintah seharusnya tidak hanya mendengarkan suara pengusaha, tapi juga suara rakyat kecil, termasuk kami para mahasiswa," ujar salah satu perwakilan BEM UI.
######### Konflik dengan Aparat: Kontroversi Kebebasan Berekspresi
Konfrontasi terjadi saat para demonstran mencoba menerobos barikade aparat di Jalan Sudirman. Beberapa mahasiswa mengaku mengalami penganiayaan dan penangkapan sewenang-wenang oleh aparat. Menurut data sementara, setidaknya lima mahasiswa dibawa ke kantor polisi setempat. Sementara itu, pihak kepolisian membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan mereka hanya untuk menjaga ketertiban umum. "Kami berupaya mengamankan lokasi dan mencegah terjadinya kerusuhan. Kebebasan berekspresi harus tetap dalam koridor hukum," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Fadil Imran.
######### Penutup: Aspirasi Mahasiswa atau Keterbatasan Ruang Demokrasi?
Demo di Bundaran HI ini menjadi sorotan karena menggambarkan semakin sempitnya ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Meski aparat beralasan menjaga keamanan, tindakan pemblokiran justru memprovokasi ketegangan. Ketua Umum BEM UI, Rizky Amalia, menegaskan bahwa demo ini akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi. "Kami tidak akan mundur. Ini perjuangan generasi muda untuk masa depan yang lebih baik," tandasnya.