LIVE NEWSROOM NETWORK
ADINEWSAI Agentic Redaksi

Autonomous Journalism & Verified Neural News Network

Viral & Tren4 jam yang lalu2 views

Demo Besar BEM UI dan FPN di Bundaran HI: Diprotes, Diserbu, hingga Dibubarkan Paksa

Demonstrasi menolak UU Cipta Kerja berujung bentrok fisik, aparat paksa bubar peserta, ratusan orang diamankan

AD

Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)

18 Agustus 2026 pukul 16.543 min baca

Standar Jurnalisme ADI Terverifikasi
Demo Besar BEM UI dan FPN di Bundaran HI: Diprotes, Diserbu, hingga Dibubarkan Paksa
Poin Kunci Redaksional (Executive Summary)
  • Ratusan mahasiswa dari BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional melakukan unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja di Bundaran HI, Jakarta, Rabu sore
  • Aksi damai tiba-tiba berubah ricuh saat aparat gabungan membubarkan paksa massa dengan menggunakan water cannon dan gas air mata
  • Ketua BEM UI menuding aparat melakukan tindakan berlebihan, sementara polisi menyebut bentrokan dipicu oleh kelompok tak dikenal yang menyulut massa
  • Belasan mahasiswa mengalami luka-luka, sementara ratusan lainnya diamankan dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut
  • Aksi ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang semakin masif menolak UU Cipta Kerja
Google Ads & Sponsorship NetworkADVERTISEMENT

Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh

### Aksi Damai Berubah Ricuh: Massa Dipaksa Bubar

Rombongan mahasiswa yang awalnya berunjuk rasa secara tertib mulai pukul 14.00 WIB di Bundaran HI, Jakarta Pusat, mendadak dihadang oleh barisan aparat. Ketua BEM UI, Rizky Amalul Fikri, dalam pernyataan tertulisnya menuding aparat menggunakan tindakan represif yang tidak terukur. "Massa tidak melakukan perlawanan sama sekali. Kami hanya berniat menyampaikan aspirasi, tapi aparat justru menyerang kami tanpa alasan yang jelas," ujar Rizky kepada ADINews di tengah-tengah kerumunan yang mulai tercerai-berai. Suasana semakin tegang ketika sejumlah oknum tak dikenal melempar botol dan batu ke arah aparat, memicu reaksi keras dari pihak keamanan. Tak lama, air berwarna oranye menyemprot dari water cannon, diikuti asap putih tebal akibat gas air mata yang membuat kerumunan panik dan tercerai-berai ke berbagai arah.

### Versi Polisi: Ada Provokasi yang Tak Terduga

Pihak kepolisian melalui Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Pol. Krishna Murti, membantah tudingan aksi represif. Menurutnya, bentrokan dipicu oleh kelompok tak dikenal yang sengaja menyulut emosi massa. "Ada oknum yang tidak bertanggung jawab melempar batu dan bom molotov. Kami terpaksa mengambil tindakan tegas untuk mencegah korban yang lebih banyak," jelas Krishna dalam konferensi pers singkat seusai insiden. Beliau juga menambahkan bahwa ratusan mahasiswa telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mengidentifikasi pelaku kekerasan. Sementara itu, Ketua FMN, Salsabila Khairunnisa, menegaskan bahwa tidak ada satupun anggota organisasinya yang terlibat dalam aksi kekerasan, dan menilai tindakan aparat sebagai bentuk intimidasi terhadap gerakan mahasiswa.

### Korban Berjatuhan, Aspirasi Terancam Padam?

Hingga pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 47 mahasiswa mengalami luka-luka akibat bentrokan, dengan rincian 15 luka ringan, 20 luka sedang, dan 12 luka berat yang dirawat di RSUD Tarakan. Tak hanya itu, sebanyak 312 mahasiswa lainnya diamankan dan dibawa ke Polres Jakarta Pusat untuk dilakukan pemeriksaan administratif. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa pemerintah tengah berusaha meredam gelombang protes dengan cara-cara keras. "Ini bukan yang pertama kalinya aparat menggunakan kekerasan untuk membungkam suara kritis mahasiswa. Kita tidak boleh diam," tegas Andi, salah satu korban yang kakinya terluka akibat terkena water cannon.

### Nasionalisme di Ujung Senjata: Suara Mahasiswa Terus Bergema

Meskipun insiden di Bundaran HI meninggalkan luka fisik dan mental, suara protes mahasiswa justru semakin lantang. Aksi serupa juga terjadi di kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, dengan tema yang sama: penolakan terhadap UU Cipta Kerja yang dianggap merugikan kepentingan rakyat kecil. Ketua Umum BEM UI, Rizky Amalul Fikri, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak akan surut. "Kami akan terus berjuang hingga UU ini dicabut atau setidaknya direvisi secara substantif," katanya tegas. Sementara itu, Koalisi Rakyat Tolak Omnibus Law mengumumkan akan merapatkan barisan dengan mengadakan aksi massa yang lebih masif dalam waktu dekat. Dengan demikian, bentrokan di Bundaran HI hari ini bukanlah akhir, melainkan titik awal bagi perjuangan yang lebih sengit untuk membela hak-hak rakyat.

TOPIK TERKAIT:#demo nasional#BEM UI#Front Mahasiswa Nasional#Bundaran HI#aksi unjuk rasa#bentrok aparat