Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
Demo BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional Diserbu Aparat di Bundaran HI, Polisi Geruduk 10 Menit Usai Awal Orasi
Aksi menolak RUU Cipta Kerja dan UU lain banyak kritikan, namun aparat tetap gunakan cara keras
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
19 Agustus 2026 pukul 02.19 • 3 min baca
- ✔Aksi massa gabungan BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional di Bundaran HI ditangani paksa aparat hanya 10 menit setelah orasi dimulai
- ✔Demo menolak RUU Cipta Kerja, UU IKN, dan UU lainnya dihadang dengan pemblokiran jalan dan penyisiran paksa
- ✔Sejumlah mahasiswa dan warga ditangkap paksa oleh polisi dalam kondisi berdesak-desakan, videonya viral di media sosial
- ✔Ketua BEM UI mengaku demo damai namun aparat menilai aksi berpotensi anarkis tanpa bukti klarifikasi
- ✔Warga sekitar mengaku kaget karena aparat langsung tangkap massa tanpa peringatan lebih dulu
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
Aksi Kilat Berubah Jadi Penangkapan Massal
Demo yang digelar Jumat sore (15/10) itu tak berlangsung lama. Sekitar pukul 15.30 WIB, puluhan mahasiswa dari BEM Universitas Indonesia (UI) dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) memulai orasi dengan mengusung sejumlah tuntutan, termasuk penolakan RUU Cipta Kerja, UU Ibu Kota Negara (IKN), hingga UU lainnya yang dinilai merugikan rakyat. Namun, suasana damai langsung pecah ketika aparat gabungan Polri dan TNI mulai memblokir akses jalan di sekitar Bundaran HI.
Dalam waktu kurang dari 10 menit sejak orasi dimulai, aparat langsung melakukan sweeping dan penangkapan paksa terhadap sejumlah mahasiswa dan warga yang tengah menyaksikan. "Kami hanya berorasi, tapi tiba-tiba aparat menyerbu tanpa peringatan. Mereka langsung memukuli dan menangkap siapa saja yang mereka anggap terlibat," ujar salah satu saksi mata, yang enggan disebutkan namanya.
Video Viral Ungkap Penyisiran Paksa
Beredarnya rekaman video di media sosial menunjukkan massa yang semula berunjuk rasa damai kini berdesak-desakan dalam kepanikan. Aparat terlihat menarik paksa seorang mahasiswa dari kerumunan, sementara yang lain dipukuli dengan pentungan. "Ini bukan demokrasi Ini penindasan," teriakan salah seorang mahasiswa terdengar dalam video yang telah ditonton lebih dari 500 ribu kali itu.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus, membantah tudingan aparat melakukan tindakan sewenang-wenang. "Kami hanya melakukan pengamanan karena demo ini berpotensi anarkis. Tidak ada penangkapan tanpa alasan," katanya. Namun, Yusri tak menjelaskan alasan konkret massa ditangkap secara massal tanpa peringatan terlebih dulu.
Ketua BEM UI: Kami Demo Damai
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua BEM UI, Adinda Tenri, menegaskan bahwa demo yang mereka gelar sama sekali tidak membawa atribut atau perilaku anarkis. "Kami sudah mengkoordinasikan dengan pihak kepolisian jauh-jauh hari. Demo ini murni damai," katanya. Namun, Adinda mengakui bahwa aparat tampaknya sudah memiliki sikap sejak awal tanpa melihat gerakan massa.
Sementara itu, Ketua Umum FMN, Fahrul, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat. "Kami tidak takut ditekan. Justru inilah bukti bahwa pemerintah takut terhadap suara kritis rakyat," tegasnya.
Warga: Aparat Langsung Tangkap Tanpa Peringatan
Sejumlah warga sekitar yang menyaksikan kejadian mengaku terkejut karena aparat langsung bertindak keras tanpa memberikan peringatan terlebih dulu. "Tadi sempat ada yang coba ngomong, tapi malah dipukuli. Apa-apaan ini? Ini negara demokrasi atau negara keras?" tanya seorang pedagang yang berjualan di sekitar lokasi.
Sementara itu, aktivis HAM menilai tindakan aparat tersebut melanggar prosedur dan merupakan bentuk intimidasi terhadap gerakan mahasiswa. "Penangkapan massal tanpa alasan jelas adalah pelanggaran HAM. Ini harus diklarifikasi," ujar Direktur Eksekutif KontraS, Fatia Maulidiyanti.
Peristiwa yang Kembali Menghangatkan Suhu Politik
Kejadian ini kembali memperuncing suhu politik menjelang serangkaian aksi massa lainnya yang direncanakan oleh berbagai elemen masyarakat. Aparat dan pemerintah kini diharap lebih bijak dalam menangani demo, mengingat gelombang protes massa yang semakin massif dalam beberapa bulan terakhir.