Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
Demo BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional diadang Aparat di Bundaran HI: Tuntutan Reformasi Kian Keras
Ratusan massa terhenti di jalan, aparat bersiaga penuh, sementara isu reformasi pendidikan dan UU Cipta Kerja kembali mencuat
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
18 Agustus 2026 pukul 19.44 • 2 min baca
- ✔Demonstrasi digelar BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional menuntut reformasi pendidikan dan mencabut UU Cipta Kerja
- ✔Aksi diblokir aparat di Bundaran HI, ratusan massa terhenti di jalan protokol
- ✔Ketegangan terjadi saat massa berusaha melanjutkan aksi, aparat bersiaga dengan senjata api dan water canon
- ✔Tuntutan utama meliputi pencabutan UU Cipta Kerja, reformasi sistem pendidikan, dan peningkatan anggaran pendidikan
- ✔Juru bicara BEM UI menyatakan aksi merupakan bagian dari gerakan nasional yang tak terbendung
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
Blokade Total, Massa Tak Surut
Rombongan demo yang terdiri dari sekitar 500 mahasiswa ini dibentuk sejak pukul 14.00 WIB di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Menurut koordinator lapangan, mereka bergerak menuju Bundaran HI untuk menyampaikan aspirasi terkait pendidikan dan UU Cipta Kerja. Namun, sejak memasuki kawasan Bundaran HI, aparat gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat sudah bersiaga penuh. "Kami sudah berkoordinasi sejak pagi, dan akan bersikap tegas kalau ada upaya paksa untuk menerobos blokade," kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Muchammad Fadil Imran, dalam konferensi pers singkat seusai insiden.
Sejumlah mahasiswa mencoba menerobos dengan meneriakkan yel-yel perlawanan, namun langsung dihadang oleh barikade polisi dan aparat Brimob dengan senjata api serta water canon. "Ini bukan pertama kalinya kami diblokir. Tapi kami tetap akan berjuang sampai tuntutan kami dipenuhi," tegas Dwi Noviyanti, Ketua BEM UI periode 2024-2025. Ia menambahkan bahwa aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang tak terbendung dan akan terus berlanjut hingga tuntutan reformasi pendidikan dan pencabutan UU Cipta Kerja terwujud.
Tuntutan yang Tak Berubah
Dalam spanduk besar yang mereka bawa, terpampang jelas tuntutan utama yang menjadi alasan demo hari itu. Pertama, pencabutan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Mahasiswa menilai UU tersebut merugikan kaum buruh dan pendidikan karena memudahkan perusahaan untuk memutus hubungan kerja serta mengurangi anggaran pendidikan. "UU Cipta Kerja adalah hukum yang lahir dari proses yang tak demokratis. Kami menuntut pencabutannya sekarang," ungkap Fajar, salah satu anggota Front Mahasiswa Nasional.
Kedua, reformasi sistem pendidikan nasional. Mereka menuntut peningkatan anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Saat ini, anggaran pendidikan hanya berkisar 17-18%, jauh dari harapan. Ketiga, penghapusan praktik diskriminasi dalam penerimaan mahasiswa baru, termasuk sistem zonasi yang dianggap merugikan calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Reaksi Publik dan Aparat
Sementara demo berlangsung, reaksi publik pun beragam. Sejumlah warga yang melintas di kawasan Bundaran HI memilih untuk berhenti sejenak menyaksikan, sementara sebagian lain memilih menghindar untuk menghindari kerumunan. Di sisi lain, aparat bersiaga ketat dengan taktik pengamanan yang ketat. Menurut data yang dirilis Polda Metro Jaya, selama bulan Juli 2024, telah terjadi 12 kali aksi demo di Jakarta yang berujung pada ketegangan dengan aparat. "Kami memahami aspirasi mahasiswa, tapi keamanan dan ketertiban juga harus dijaga. Kami akan bersikap proporsional," tegas Muchammad Fadil.
Masa Depan Perjuangan
Meskipun terhenti di tengah jalan, para mahasiswa tak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Ketua BEM UI mengisyaratkan bahwa aksi ini hanyalah awal dari rangkaian perjuangan yang lebih besar. "Kami akan terus berkoordinasi dengan elemen mahasiswa lain di seluruh Indonesia. Ini bukan akhir, tapi awal perjuangan yang lebih masif," kata Dwi Noviyanti.