Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
Demo BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional: Aksi Tolak Kebijakan Diserbu Aparat di Bundaran HI
Ribuan mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan usai unjuk ras di kawasan landmark Jakarta, mengkritik Undang-Undang Cipta Kerja dan RUU Lainnya
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
19 Agustus 2026 pukul 02.16 • 2 min baca
- ✔Ribuan mahasiswa dari BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional melakukan demo besar-besaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Senin siang.
- ✔Aparat keamanan berupaya membubarkan aksi dengan cara mengusir massa dan menutup akses menuju Bundaran HI.
- ✔Demo ini digelar untuk menolak sejumlah kebijakan pemerintah, terutama Undang-Undang Cipta Kerja dan RUU lainnya yang dianggap merugikan mahasiswa dan rakyat.
- ✔Aksi berlangsung ricuh dengan beberapa kali bentrokan fisik antara mahasiswa dan aparat, termasuk penggunaan gas air mata.
- ✔Mahasiswa menuntut dialog dengan pemerintah dan mendesak pencabutan sejumlah pasal kontroversial dalam UU Cipta Kerja.
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
### Momen Puncak: Aksi Damai Berubah Ricuh
Kegiatan demonstrasi yang semula berjalan tertib sejak pukul 10.00 WIB itu tiba-tiba memanas ketika massa mulai didesak mundur dari kawasan Bundaran HI. Menurut saksi mata, aparat dari kepolisian dan TNI bergerak mendekat dengan membentuk pagar betis, menghalangi mahasiswa untuk mendekati pusat bundaran. "Mereka bilang kami tidak boleh mendekat, tapi kami hanya ingin menyampaikan aspirasi. Ini demokrasi, bukan zona larangan," ujar Ketua BEM UI, Andi Prasetyo, kepada awak media di lokasi. Situasi semakin memanas usai sejumlah mahasiswa mencoba menerobos barikade. Polisi kemudian melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa, menyulut kemarahan mahasiswa yang balik menyerang dengan melempar botol dan batu. Beberapa petugas terlihat memakai pelindung wajah dan tameng, sementara mahasiswa menggunakan masker dan kain basah untuk menutupi hidung dari efek gas air mata.
### Tuntutan yang Tak Kunjung Didengar
Menurut pernyataan resmi yang dibacakan oleh Ketua FMN, Rizky Januar, aksi ini digelar sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat. "Kami menolak UU Cipta Kerja karena pasal-pasalnya merugikan kaum muda, seperti regulasi tentang tenaga kerja kontrak dan upah minimum yang tidak layak. Selain itu, kami juga menuntut pencabutan RUU lainnya yang berpotensi semakin menindas rakyat," jelas Rizky. Ia menambahkan, pemerintah dinilai lamban dalam menanggapi aspirasi mahasiswa dan masyarakat, sehingga aksi massa menjadi satu-satunya jalan untuk didengar. "Kami tidak ingin lagi dibohongi dengan janji-janji kosong," tegasnya.
### Reaksi Aparat: Penegakan Ketertiban atau Penindasan?
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Agung Budijono, membantah tudingan bahwa aparat menggunakan cara-cara berlebihan. "Kami hanya menegakkan ketertiban. Bundaran HI adalah kawasan vital yang tidak boleh dibiarkan menjadi ajang perusakan dan anarkisme," katanya dalam jumpa pers singkat usai bentrokan. Namun, pernyataannya ini dibantah oleh sejumlah aktivis dan mahasiswa yang menyaksikan langsung aksi aparat. Video yang beredar di media sosial menunjukkan beberapa petugas melakukan sweeping paksa terhadap mahasiswa yang tidak terlibat aksi, termasuk mengambil paksa atribut kampus dan memukul massa dengan tongkat.
### Jalan Menuju Penyelesaian Masih Panjang
Meskipun demo berakhir pada sore hari dengan mundurnya sebagian besar massa, ketegangan masih terasa di kawasan tersebut. Sejumlah mahasiswa yang terluka mendapatkan pertolongan dari relawan medis di sekitar lokasi, sementara aparat masih berjaga ketat untuk mencegah aksi lanjutan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, melalui akun Twitter resminya menyatakan prihatin atas terjadinya bentrokan. "Kami menghimbau kepada semua pihak untuk tetap menjaga kondusifitas dan mencari solusi melalui dialog," tulis Nadiem. Namun, kelompok mahasiswa menegaskan tidak akan berhenti berjuang hingga tuntutan mereka dipenuhi. "Ini bukan akhir. Kami akan terus bergerak," tandas Andi Prasetyo.