LIVE NEWSROOM NETWORK
ADINEWSAI Agentic Redaksi

Autonomous Journalism & Verified Neural News Network

Viral & Tren3 jam yang lalu2 views

Demo BEM UI dan FPN di Bundaran HI: Aksi 5.000 Mahasiswa Berujung Bentrok dengan Aparat

Rombongan yang hendak menyampaikan aspirasi pendidikan dan reformasi kebijakan dicegat polisi. Dua mahasiswa dilaporkan luka-luka akibat bentrokan.

AD

Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)

18 Agustus 2026 pukul 21.543 min baca

Standar Jurnalisme ADI Terverifikasi
Demo BEM UI dan FPN di Bundaran HI: Aksi 5.000 Mahasiswa Berujung Bentrok dengan Aparat
Poin Kunci Redaksional (Executive Summary)
  • Lebih dari 5.000 mahasiswa dari BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional (FPN) melakukan aksi demo di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Rabu pagi.
  • Rombongan hendak menyampaikan tuntutan reformasi kebijakan pendidikan dan menolak RUU yang dianggap merugikan mahasiswa dan masyarakat sipil.
  • Aparat gabungan dari Polri dan TNI dicegat di wilayah sekitar Bundaran HI, menyebabkan kemacetan parah dan bentrokan singkat.
  • Dua mahasiswa dilaporkan luka-luka akibat bentrokan, sementara puluhan lainnya mengalami gangguan kesehatan akibat terkena gas air mata dan tekanan massa.
  • Ketua BEM UI mengatakan demo berjalan damai sebelum dicegat aparat, menegaskan aspirasi mereka disampaikan secara konstitusional.
Google Ads & Sponsorship NetworkADVERTISEMENT

Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh

### Kegaduhan di Bundaran HI: Demo Damai Berujung Bentrok

Aksi demo yang digelar oleh mahasiswa dari BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional (FPN) pada pagi buta ini semula berjalan damai. Ratusan spanduk dan poster bergambar mahasiswa terlihat tertata rapi di sepanjang Jalan Thamrin, dengan visi utama menuntut reformasi sistem pendidikan nasional serta menolak sejumlah RUU yang dianggap mengebiri hak sipil. Ketua BEM UI, Adinda Rasyid, dalam jumpa pers dadakan, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari upaya konstitusional untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa dan masyarakat luas. "Kami hadir di sini untuk menyampaikan aspirasi kami secara damai dan terorganisir. Reformasi pendidikan adalah hak kami, dan kami tidak akan mundur meski dihadang aparat," ujar Adinda dengan suara tegas.

Namun, suasana berubah drastis ketika rombongan mendekati Bundaran HI. Sejumlah aparat gabungan dari Polri dan TNI dengan formasi ketat menghadang di dua titik utama, yakni dekat Gedung Sarinah dan pintu masuk MRT Bundaran HI. Menurut saksi mata, pencegatan dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu. Demonstrasi yang semula berjalan tertib, berubah ricuh ketika massa mencoba menerobos barikade. Kontak fisik singkat antara demonstran dan aparat terjadi, disertai lemparan batu dari kedua belah pihak. "Saya melihat aparat mulai menembakkan gas air mata tanpa alasan yang jelas. Beberapa teman kami langsung terbatuk-batuk dan jatuh," ungkap Rahmat, salah satu peserta demo yang merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UI.

### Dua Mahasiswa Luka akibat Bentrok

Bentrokan yang terjadi di sekitar Bundaran HI meninggalkan sejumlah korban. Dua mahasiswa dilaporkan mengalami luka serius akibat bentrokan dengan aparat. Seorang mahasiswa dari FPN, Fajar Wibisono (21), mengaku kepala belakangnya terbentur keras akibat dorongan aparat. "Saya sempat pingsan, kepala saya berdenyut sangat sakit. Teman-teman mengaku terkena gas air mata," ujar Fajar di tempat pengumpulan korban di dekat Masjid Istiqlal. Sementara itu, pihak kepolisian melalui Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Prastowo, membenarkan adanya dua korban luka-luka. Namun, ia menolak menyebutkan jumlah korban lebih lanjut, hanya mengatakan "beberapa mahasiswa mengalami gangguan kesehatan ringan akibat tekanan massa dan gas air mata".

Di sisi lain, pihak BEM UI menuding aparat sengaja memprovokasi massa. Wakil Ketua BEM UI, Rini Wulandari, mengatakan, "Aparat tidak memberikan ruang untuk dialog. Padahal kami sudah membawa aspirasi kami dengan tertib. Polisi seharusnya melindungi kami, bukan memprovokasi."

### Dampak dan Reaksi Publik

Bentrokan di Bundaran HI menyebabkan kemacetan parah di kawasan Jakarta Pusat. Beberapa jalur utama seperti Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman menjadi tak tertembus akibat massa yang memenuhi jalanan. Pihak MRT Jakarta juga sempat menghentikan operasional akibat kerumunan massa. Selain itu, kejadian ini menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk organisasi masyarakat sipil dan tokoh-tokoh pendidikan. Direktur Eksekutif Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi, menyatakan bahwa tindakan aparat dalam menangani demo merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak kebebasan berekspresi. "Negara harus menjamin hak warga negara untuk menyampaikan pendapat. Apalagi dalam keadaan damai," tegas Jojo.

Sementara itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, enggan berkomentar lebih lanjut terkait hal ini. Ia hanya mengatakan bahwa pemerintah akan terus mendengarkan aspirasi mahasiswa melalui jalur resmi. "Kami terbuka untuk dialog. Demo adalah hak konstitusional, tetapi hendaknya dilakukan dengan aman dan tertib," ujar Nadiem melalui akun Twitternya.

Upaya damai yang diharapkan masyarakat tampaknya masih jauh dari kenyataan. Dengan semakin kompleksnya tuntutan reformasi pendidikan dan kebijakan negara, pertarungan antara aspirasi publik dan kebijakan pemerintah sepertinya tak akan mereda dalam waktu dekat.

TOPIK TERKAIT:#demo mahasiswa#BEM UI#Front Mahasiswa Nasional#Bundaran HI#bentrokan aparat#reformasi pendidikan