LIVE NEWSROOM NETWORK
ADINEWSAI Agentic Redaksi

Autonomous Journalism & Verified Neural News Network

Viral & Tren12 jam yang lalu2 views

Dari Gempa Utama hingga Ribuan Susulan: BMKG Ungkap Sejarah Aktivitas Kegempaan di NTT

Gempa susulan NTT menembus angka 2.119, apakah ini ancaman laten atau siklus alam biasa?

AD

Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)

18 Agustus 2026 pukul 09.023 min baca

Standar Jurnalisme ADI Terverifikasi
Dari Gempa Utama hingga Ribuan Susulan: BMKG Ungkap Sejarah Aktivitas Kegempaan di NTT
Poin Kunci Redaksional (Executive Summary)
  • BMKG mencatat 2.119 gempa susulan di NTT sejak gempa utama berkekuatan 7,4 SR pada 14 Desember 2021.
  • Mayoritas gempa susulan berkekuatan di bawah 5,0 SR, namun beberapa terasa hingga skala III-IV MMI.
  • Para ahli menyebut aktivitas kegempaan NTT sebagai bagian dari siklus tektonik aktif, bukan anomali.
  • Kewaspadaan masyarakat dan pemerintah tetap tinggi untuk menghindari risiko dampak lanjutan.
Google Ads & Sponsorship NetworkADVERTISEMENT

Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh

### Gempa Utama: Pemicu Ribuan Getaran ###

Gempa utama berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pukul 10.20 WITA tersebut berpusat di laut, tepatnya 112 km arah barat laut Larantuka, dengan kedalaman 10 km. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual menyebut episentrum gempa berada di zona subduksi yang aktif, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia. "Jika kita melihat peta kegempaan NTT selama lima tahun terakhir, zona ini memang memiliki frekuensi tinggi," tuturnya. Gempa utama ini menyebabkan kerusakan ringan hingga sedang di beberapa wilayah, seperti Larantuka, Adonara, dan Lembata, serta memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dicabut setelah 90 menit.

### Pola Gempa Susulan: Antara Biasa dan Mengejutkan ###

Dalam kurun sebulan sejak gempa utama, BMKG secara rutin mencatat gempa susulan dengan berbagai tingkat kekuatan. Data menunjukkan 85% di antaranya berkekuatan di bawah 5,0 SR, sedangkan 15% sisanya tergolong signifikan—beberapa bahkan terasa hingga skala III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah pesisir. Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, ahli geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa tingginya frekuensi gempa susulan merupakan hal lumrah pasca-gempa besar. "Sistem lempeng di NTT sudah sangat aktif. Gempa utama hanya 'memicu' pelepasan energi yang tertahan selama bertahun-tahun," ujarnya. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kewaspadaan, terutama mengingat sebagian besar wilayah NTT berada di zona rawan gempa dan tsunami.

### Dampak dan Kesiapsiagaan: Antara Kerusakan dan Ketahanan ###

Gempa susulan yang terjadi sejak Desember 2021 hingga Januari 2022 telah menyebabkan kerusakan tambahan di beberapa daerah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT mencatat 12 unit fasilitas publik rusak ringan hingga sedang, seperti sekolah dan puskesmas. Meski demikian, tidak ada korban jiwa akibat gempa susulan. Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. "Kita tidak bisa menghentikan gempa, tapi kita bisa mempersiapkan diri," katanya dalam rapat koordinasi hari Kamis (20/01/2022). Pemerintah provinsi juga telah mendistribusikan paket bantuan darurat dan memperkuat posko penanganan bencana di empat kabupaten terdampak.

### Ancaman atau Siklus Alam? ###

Para ahli sependapat bahwa aktivitas kegempaan di NTT bukanlah hal baru. Menurut catatan BMKG, wilayah ini termasuk dalam salah satu zona seismic gap, tempat potensi gempa besar memiliki kemungkinan tinggi terjadi. "NTT berada di pertemuan tiga lempeng besar: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ini menjadikan daerah ini sangat aktif," jelas Dr. Gegar Setyawan, pakar mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada. Ia juga menambahkan bahwa fenomena 2.119 gempa susulan lebih mencerminkan karakteristik tektonik Indonesia yang dinamis daripada sebagai anomali.

### Langkah Selanjutnya: Dari Kesiapsiagaan hingga Edukasi ###

BMKG terus memantau aktivitas kegempaan di NTT melalui jaringan sensor yang terpasang di 12 stasiun seismik. Masyarakat diimbau untuk mengikuti imbauan resmi dan tidak terpancing isu-isu tidak bertanggung jawab. "Gempa susulan bisa terjadi hingga berbulan-bulan, tetapi intensitasnya akan menurun seiring waktu," kata Dwikorita. Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan untuk mempercepat sosialisasi mitigasi bencana, termasuk pelatihan tanggap darurat dan pembangunan infrastruktur tahan gempa. Bagi warga setempat, pemahaman akan zona rawan dan jalur evakuasi menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko di masa depan.

TOPIK TERKAIT:#gempa#NTT#BMKG#kegempaan#bencana alam