Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional Diserbu Polisi di Bundaran HI, Protes 'Penjajahan Negara' Bergema
Polisi menggelar pengamanan ketat saat aksi menolak kebijakan pemerintah, tersebar video viral pengendara motor yang memprovokasi massa.
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
18 Agustus 2026 pukul 10.46 • 3 min baca
- ✔Rombongan BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional dicegat polisi saat hendak menggelar aksi di Bundaran HI Jakarta.
- ✔Massa menolak kebijakan pemerintah dengan yel-yel 'Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri'.
- ✔Polisi berjaga ketat sambil mengevakuasi sejumlah pengendara motor yang memprovokasi massa.
- ✔Video viral tersebar menunjukkan suasana tegang dan upaya polisi untuk meredam situasi.
- ✔Aksi ini menjadi perhatian publik karena ketegangan antara mahasiswa dan aparat semakin meningkat.
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
### Penolakan terhadap Kebijakan: 'Negara Jangan Jadi Penjajah'
Sekitar pukul 15.00 WIB, tidak kurang dari 500 massa dari BEM UI dan FMN berkumpul di sekitar Bundaran HI. Mereka membawa berbagai atribut, mulai dari spanduk bertuliskan 'Demokrasi di Ambang Kepunahan' hingga poster tentang reformasi kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan. Ketua BEM UI, Rizki Amrullah, dalam pidatonya di mikrofon memimpin yel-yel yang keras, "Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri Kami tidak mau dijajah oleh kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat" ungkapnya dengan penuh semangat. Massa pun membalas dengan teriakan yang sama, menciptakan gema yang terdengar hingga keliling Bundaran HI.
Menurut salah seorang mahasiswa yang hadir, aksi ini merupakan bentuk protes terhadap Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUUCK) dan kebijakan pemerintah lainnya yang dianggap merugikan rakyat, khususnya kaum muda. "Kami tidak ingin kebijakan ini terus berjalan tanpa partisipasi publik. Semua keputusan harus melibatkan suara mahasiswa dan masyarakat luas," tegas Dian, salah satu anggota FMN.
### Provokasi dari Pengendara Motor Memicu Ketegangan
Namun, suasana tiba-tiba berubah drastis saat beberapa pengendara motor melintas di depan massa dan memprovokasi dengan teriakan bernada mengolok-olok. "Kalau berani, turun ke jalan, jangan cuma ngomong doang" ujar salah seorang pengendara sambil tertawa. Provokasi tersebut langsung memicu emosi massa. Beberapa mahasiswa spontan mendekati pengendara motor tersebut, sementara yang lain berusaha menenangkan situasi. "Kami tidak mau terpancing. Kuncinya tetap pada pesan damai," kata seorang koordinator lapangan yang enggan disebutkan namanya.
Melihat ketegangan yang semakin meningkat, polisi yang sudah berjaga ketat sejak pagi segera turun tangan. Mereka membentuk pagar pembatas dan mengevakuasi pengendara motor tersebut ke tempat yang lebih aman. "Kami mengimbau massa untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh provokasi. Aksi harus tetap berjalan dengan damai," ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Yusri Yunus, dalam konferensi singkat.
### Polisi Berjaga Ketat, Video Viral Menambah Ketegangan
Polisi mengerahkan lima unit pengendali massa (Dalmas) serta personel dari Brimob untuk mengamankan titik-titik strategis di sekitar Bundaran HI. Mereka juga menyiapkan water cannon sebagai langkah antisipatif. "Kesiapsiagaan kami sangat tinggi. Kami berharap seluruh pihak dapat menjaga ketertiban demi keselamatan bersama," tambah Kapolres Yusri.
Sementara itu, video yang tersebar luas di media sosial menunjukkan momen ketika polisi meminta massa untuk mundur dan meredam emosi. Dalam cuplikan tersebut, terlihat jelas wajah tegang para mahasiswa dan aparat yang saling berhadapan. Warganet pun bereaksi beragam; ada yang mendukung aksi mahasiswa, namun tak sedikit yang mempertanyakan metode protes yang dinilai berpotensi memicu kerusuhan.
Menurut data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), sepanjang tahun 2023, telah terjadi 23 kali aksi mahasiswa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Mayoritas aksi ini berkaitan dengan penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat. Aksi di Bundaran HI hari ini pun tak lepas dari sorotan publik, mengingat dampaknya yang begitu cepat menyebar melalui media sosial.