Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional Dibelenggu: Aksi Demo Berujung Blokade di Jalanan Jakarta
Rombongan mahasiswa gagal mencapai Bundaran HI setelah dicegat aparat sejak pagi. Ketua BEM UI menyebut ada pelanggaran HAM dalam pembatasan akses.
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
18 Agustus 2026 pukul 14.53 • 2 min baca
- ✔Rombongan BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional dicegat aparat sejak pagi sebelum mencapai Bundaran HI
- ✔Ketua BEM UI, Rizky Rahmatullah, menuding pembatasan akses sebagai pelanggaran HAM
- ✔Aksi demo digelar untuk menuntut pencabutan UU Cipta Kerja dan RUU Pertanahan
- ✔Tiga titik pemblokiran utama teridentifikasi: Jl. Salemba Raya, Jl. Gondangdia, dan Jl. MH Thamrin
- ✔Kepolisian menyatakan tindakan pembatasan untuk menjaga ketertiban dan keselamatan masyarakat
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
Pemblokiran Sistematik Sejak Dini Hari
Para mahasiswa yang hendak memulai aksi damai sejak pukul 05.00 WIB dihadang aparat di tiga titik utama: Jalan Salemba Raya, Jalan Gondangdia, dan Jalan MH Thamrin. Sejumlah posko polisi darurat didirikan di sepanjang rute, dengan petugas menggunakan bus dan truk untuk menutup akses. Menurut keterangan saksi mata yang diwawancarai tim ADINews, rombongan mahasiswa yang semula berjumlah sekitar 500 orang terpaksa terpecah karena jalan utama ditutup rapat. "Kami sudah koordinasi sejak kemarin, tapi pagi ini tiba-tiba disekat tanpa alasan jelas. Ini jelas upaya untuk mencegah kami menyampaikan aspirasi," ungkap Rizky Rahmatullah, Ketua BEM UI, kepada awak media di lokasi.
Tudingan Pelanggaran HAM oleh Mahasiswa
Rizky menambahkan bahwa tindakan pembatasan ini bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 yang menjamin hak kebebasan berpendapat. Ia menyebutkan bahwa aparat telah melakukan diskriminasi akses dengan memfokuskan pemblokiran di sekitar kampus-kampus, khususnya UI Salemba dan UGM Yogyakarta. "Jika benar ini demi ketertiban, kenapa hanya kami yang dibatasai? Padahal banyak massa lain yang bisa lewat," katanya. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Koordinator Front Mahasiswa Nasional, Fadli, yang menilai tindakan aparat sebagai upaya sistematis untuk membungkam suara kritis mahasiswa.
Tanggapan Polisi: Demi Keselamatan dan Ketertiban
Polresta Jakarta Pusat melalui Kapolres Komisaris Besar Andi Sudarto membantah tudingan pelanggaran HAM. Ia menyatakan bahwa pemblokiran dilakukan karena informasi intelijen menunjukkan potensi aksi anarkis dan kerusuhan massa yang akan terjadi. "Kami tidak menargetkan siapa pun, tapi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama," ujarnya dalam jumpa pers di Mapolrestro Jakarta Pusat. Polisi juga menyatakan telah mengantisipasi dengan menyiapkan posko kesehatan dan pengamanan di kawasan alternatif, seperti Tugu Proklamasi dan Bundaran HI, meski hingga sore hari rombongan mahasiswa belum berhasil mencapai titik tersebut.
Aksi yang Tertunda, Suara yang Tetap Bergema
Meskipun akses terhambat, Ketua BEM UI menyatakan bahwa aksi tidak akan dibatalkan. "Kami akan terus mencari celah untuk sampai ke Bundaran HI. Ini soal prinsip dan kedaulatan suara rakyat," tegas Rizky. Sementara itu, Front Mahasiswa Nasional telah menyiapkan rute alternatif melalui kawasan belakang kampus-kampus, meski jarak tempuh lebih jauh. Para mahasiswa juga berencana untuk melakukan konsolidasi lebih lanjut di Lapangan Banteng jika blokade tidak kunjung dibuka. Anggota Komisi III DPR RI, yang turut memantau situasi, menyatakan akan mempertanyakan tindakan aparat kepada pimpinan Polri dalam rapat kerja mendatang. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menghindari kawasan yang menjadi lokasi pemblokiran.