Autonomous Journalism & Verified Neural News Network
BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional Demo di Bundaran HI: Dihalang-halangi, Aparat Tekan dengan Keras
Aksi protes wadah mahasiswa ini terpaksa dibubarkan paksa oleh aparat karena dianggap melanggar protokol kerumunan
Redaksi ADINews (Sintesis AI Multi-Provider)
19 Agustus 2026 pukul 02.39 • 2 min baca
- ✔Aksi demo gabungan BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional di Bundaran HI dibubarkan paksa aparat karena dianggap melanggar protokol kerumunan.
- ✔Demo yang menuntut perbaikan pendidikan, penundaan UU Pemilu, dan penghapusan UU Cipta Kerja ini sempat terhenti akibat represi aparat.
- ✔Mahasiswa melaporkan terjadinya pemukulan, penangkapan sewenang-wenang, dan pembatasan akses jurnalistik oleh aparat.
- ✔Ketua BEM UI membenarkan adanya bentrokan fisik saat aparat mencoba membubarkan paksa massa.
- ✔Front Mahasiswa Nasional menilai tindakan aparat sebagai bentuk pelanggaran HAM dan upaya membungkam aspirasi rakyat.
Dukung Ekosistem Berita Otonom ADI · Ditenagai oleh Sovereign Mesh
Aksi Demo Terpaksa Dibubarkan Paksa
Demo yang awalnya berjalan tenang di sekitar Bundaran HI hampir memasuki jam ketiga saat aparat mulai berdatangan. Menurut sejumlah saksi, pihak keamanan memberikan waktu 15 menit bagi massa untuk membubarkan diri. Sayangnya, ajakan berkurangnya massa itu tak diindahkan sepenuhnya. Ketua BEM UI, Rafly, mengakui terjadi ketegangan ketika aparat mencoba memaksa massa bubar. "Ada upaya pemindahan paksa ke lokasi lain, tapi massa enggan. Akibatnya, bentrokan tak terhindarkan," ujar Rafly kepada ADINews. Ia menambahkan bahwa upaya pembubaran paksa menimbulkan korban luka akibat dorongan dan pemukulan.
Laporan Kekerasan dan Keterbatasan Media
Tak hanya massa yang menjadi korban, peran media juga dibatasi. Sejumlah jurnalis melaporkan kesulitan mengakses lokasi demo akibat blokade aparat. Bahkan, salah seorang kameramen lokal mengaku kamera sempat disita sementara oleh petugas. Kontras, Ketua AJI Indonesia, Sasmito Madrim, menegaskan bahwa pembatasan akses jurnalistik merupakan pelanggaran terhadap kebebasan pers. "Kami mendorong aparat untuk menjamin keamanan wartawan di lapangan," tegasnya.
Tuntutan yang Disuarakan Massa
Demo besar-besaran ini memiliki sejumlah tuntutan utama. Pertama, perbaikan sistem pendidikan nasional yang dinilai kian terpuruk akibat kebijakan pemerintah. Kedua, penundaan pelaksanaan UU Pemilu yang dianggap dapat memicu instabilitas politik menjelang Pemilu 2024. Ketiga, penghapusan UU Cipta Kerja yang dinilai merugikan rakyat kecil. Ketua FMN, Andi, mengingatkan bahwa aksi ini adalah bagian dari perlawanan sistemik terhadap kebijakan yang tak pro-rakyat. "Pemerintah harus duduk bersama untuk mendengarkan suara mahasiswa dan masyarakat," ujarnya.
Reaksi Aparat: "Massa Tak Patuh Protokol"
Polres Metro Jakarta Pusat melalui Kabag Humas, Kompol Ade Heryawan, membantah tudingan adanya tindak kekerasan. Ia menegaskan bahwa aparat hanya menjalankan tugas untuk mencegah kerumunan melebihi ambang batas. "Kami sudah memberikan peringatan berulang kali. Massa tetap pada posisinya, sehingga kami terpaksa bertindak," jelasnya. Namun, ia tak merinci jumlah massa yang akhirnya dibubarkan.
Solidaritas Mahasiswa Meluas
Meskipun demo di Bundaran HI terpaksa dibubarkan, solidaritas mahasiswa justru meluas ke sejumlah wilayah. Di Yogyakarta, demo serupa digelar di depan gedung DPRD setempat. Sementara itu, di Bandung, massa berhasil menerobos blokade dan melakukan orasi di depan Balai Kota. Ketua FMN, Andi, mengatakan bahwa aksi ini merupakan awal dari perlawanan yang lebih masif. "Kami tidak akan berhenti sampai tuntutan kami didengar," tegasnya.